LUKA-LUKA LELAKI HUJAN


(just a fiction)

 

Tuhan masih saja terus menebar rahmatNya ke bumi. Titik-titik air masih konsisten membasahi tanah yang telah semakin basah. Semakin larut. Semakin kelam. Merahnya langit dari pendaran jutaan kilo volt terang kota tak mampu kutangkap adanya. Terhalang kelam awan yang msaih saja setia menempel di dinding langit.

Raung mesin kendaraan tak lagi seramai dan seporak-poranda tadi. Riuh nyaring klakson pengemudi yang tak sabaran pun sudah tak terdengar lagi.

Kunikmati titik-titik air yang merambat di kaca jendela rumah mungilku malam ini. Mengukir sebuah nama pada kaca yang berembun. Seraya mengintip lambaian pucuk-pucuk flamboyan yang gemulai di seberang jalan.

Aku jatuh cinta pada lelaki hujan. Cinta yang membawaku sampai ke negeri hujan tempat dia bersetia.

Kutatap penuh rindu goresan nama lelaki hujanku pada kaca jendela yang berembun. Hingga cairan hangat menetes dari sudut mataku. Aku menangis…

Cinta…

Apa itu cinta?

Ribuan kitab tentang cinta selalu bertutur indah

Pujangga-pujangga terlalu mahir berkisah

Orang bilang cinta itu oase

Aghh….

Tau apa mereka?

Aku jatuh cinta pada lelaki hujan

Cinta yang sesak penuh

Tapi pun tak seperti roman Romeo-Juliet

Juga tak seperti dongeng Cinderela

Kisahku tak tertutur dalam kitab manapun

Aku jatuh cinta pada lelaki hujan

Lelaki yang dengan telaten menyayat luka

Bahkan ribuan luka

Tapi sekaligus dia mengobati luka-luka itu

Aku jatuh cinta pada lelaki hujan

Bahkan hampa bila tanpa luka

Dan dia terus menggores luka

Lalu menyembuhkannya

Aku jatuh cinta pada lelaki hujan

Cintanya adalah goresan luka

Perih menyayat tak terperi

Berdarah-darah tertetes

Jutaan kubik air mata tercurah

Tapi aku cinta lelaki hujan

Serupa dia cinta melukaiku.

Suatu ketika aku merasa lelah yang amat sangat. Aku lelah dengan luka yang selalu digoreskannya. Terkadang luka lama belum sembuh benar, luka baru telah ditorehkan. Dan aku terlampau sakit…

Aku hanya perempuan biasa yang lemah. Dalam keangkuhanku, aku butuh pelindung. Perempuan yang tak ingin terluka. Andai saja lelaki hujanku mau berbagi payung di hari hujan bersamaku, atau memakaikan switternya padaku kala dinginnya malam. Menghadiahkan rangkaian bunga selamat pagi ketika kubuka mata. Aghhh… lelaki hujanku hanya bisa menggores luka. Dan aku telah lelah dengan segala luka. Pun dengan cinta yang sesak penuh ini.

Aku berlalu tanpa permisi. Meninggalkan lelaki hujanku. Meninggalkan pohon flamboyan dekat jembatan tempat kami sering bertemu. Meninggalkan negeri hujan.

Tak kusangka lelaki hujanku mengikutiku sampai stasiun pemberangkatan keretaku. Aku lemas. Tak kuasa menatap matanya.

Jangan pergi! serunya.

Tidak bisa. Aku akan tetap pergi.

Tapi aku membutuhkanmu.

Kau hanya butuh perempuan yang bisa kau lukai!

Tidak! Aku membutuhkanmu!

Kau hanya butuh melihatku berdarah-darah dan banjir air mata.

Tapi dirimu juga membutuhkanku. Aku selalu mengobatimu.

Iya. Tapi aku tak lagi butuh itu.

Kembalilah, jangan pergi…!

Maaf, aku harus pergi. Aku perlu waktu untuk bisa kuat di sisimu.

Kau akan kembali, kasihku?

Entah.

Kembalilah bila dirimu sudah kuat. Aku menunggumu selalu di hari hujan bawah flamboyan dekat jembatan.

Aku tak akan kembali untuk kau lukai.

Tidak akan, kasihku…

Dan kami berpisah membawa perasaan dan harapan masing-masing. Dia ingin aku kembali, sedangkan aku tak ingin kembali. Bila dia kehilangan, maka aku merasakan kebebasan. Aku bisa tersenyum sementara dia hanya melambaikan tangan dan menatapku hampa sampai hilang keretaku dari pandangan.

Berlalu dari pagi ke pagi. Malam ke malam. Hari ke hari. Hujan ke hujan. Tahun ke tahun. Waktu bergulir seolah tanpa kompromi. Kami benar-benar terpisah.

Namun luka ini tak juga tersembuhkan. Hari ini hari hujan kesekian yang kulewatkan sambil menahan sayatan luka yang semakin perih menganga. Hari hujan kesekian yang kulewati tanpa lelaki hujanku.

Waktu dan jarak tak jua membuatku kuat. Semakin aku berusaha menutup luka, semakin perih tak terperi. Aku memang hanya butuh lelaki hujanku. Pembuat luka sekaligus penyembuhku.

Aku kembali ke negeri hujan tanpa membawa harapan. Pun tak berharap bertemu lelaki hujanku. Apalagi berharap terobati luka-lukaku. Aku pasrah bila terus menahan perihnya luka.

Di suatu hari hujan di negeri hujan, kaki mungilku melangkah menuju pohon flamboyan dekat jembatan. Merah nyala bunganya telah nampak dari kejauhan. Dan aku hanya ingin duduk berpayung di kursi tua bawah flamboyan dekat jembatan. Memandang ke seberang dan mengenang lelaki hujanku.

Ketika semakin dekat, langkah kakiku terhenti. Sosok berpayung di bawah flamboyan itu teramat ku kenal. Serasa berdesir. Jantungku memompa lebih cepat. Tapi organ-organku yang lainnya serasa mati.

Kasihku… kaukah itu? Dia meloncat kegirangan dan berlari ke arahku serupa anak kecil yang merindukan ibunya. Tak peduli payungnya terlepas dari genggaman dan terbawa angin. Tak peduli hujan deras membuatnya semakin basah. Direngkuhnya aku dalam peluknya yang sesak penuh rindu.

Aku kehilangan kata dan mulutku tak mampu berucap.

Aku tahu kau akan kembali. Setiap hari hujan aku menunggumu disini. Terima kasih kau kembali, kasihku…

Kenapa kau menungguku?

Karena aku membutuhkanmu, kasihku. Butuh seseorang untuk merangkai hariku dan kulimpahi kasihku.

Tapi kasihmu membuatku terluka…

Tidak akan ada luka lagi. Ini janji lelaki hujan, kasihku…

Dan kenapa kau ini, sayang? Kenapa ada luka-luka di dirimu? Lihatlah semakin tirus pipimu. Siapa yang melukaimu?

Tidakkah kau sadar, kasihku. Kepergianmu membuatku luka dan tak ada penyembuh selain dirimu. Sama seperti lukamu ini yang tak juga tersembuhkan karena hanya aku penyembuhmu.

Maafkan aku…

Tetaplah disisiku, kasihku…

Cinta…

Apa itu cinta?

Ribuan kitab cinta selalu bertutur indah

Pujangga-pujangga terlampau mahir membius

Orang bilang cinta itu pelangi

Tapi cinta itu hujan

Aghh….

Tau apa mereka?

Aku cinta lelaki hujan

Cinta yang sesak penuh

Kurangkai sendiri kisahku

Dalam kitab yang tak ada akhir cerita

Aku jatuh cinta pada lelaki hujan

Luka yang pernah ada biarlah menjadi kuat

Aku kuat karena cinta

Cinta yang sesak penuh

Rindu yang meledak-ledak

Aku cinta kau lelaki hujanku

Mencintaimu dengan segala

Seperti hujan yang tak pernah bosan merangkai musim

Setiap goresan lukamu adalah cinta

Jika karena DIA dan hanya DIA andanya antara kita

Ijinku berterima kasih daripada menangis sedih

Meski derita rindu menyayatku

Jika derita bertemu cinta

Cukuplah ia jadi obatnya

Lukaku, perihku adalah rahmatNYA

Lukaku, perihku adalah untukNYA

Itulah bahagiaku.

Laqod kholaqnal insana fii kabad

Dan tunjukilah kami jalan yang lurus

Jalan orang-orang yang KAU pinjami kerahimanMU

Jangan menangis, kasihku… Dunia akhirat aku ada untukmu. Tetaplah teguh di sisiku…

Dan cintapun bertasbih dalam sujud panjang. Doa-doa terlantun semoga sampai ke arsy NYA. Amin dalam tahajud kami.

Xxxxxxx, November 2009

Aigghhh… Alhamdulillah. Akhirnya kelar niy tulisan. ^_^

NB :

“Demi diriku yang ada di tanganNYA. Tidaklah Allah menetapkan suatu takdir bagi orang mukmin, melainkan takdir itulah yang terbaik baginya. Jika mendapat kesenangan dia bersyukur dan jika ditimpa kemudharatan dia bersabar. Dan itu adalah kebajikan untuknya. Dan itu tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin.” (HR. Muslim & Ahmad)

4 thoughts on “LUKA-LUKA LELAKI HUJAN

  1. cinta adalah Tuhan.. bener gak.! maka cintailah cinta dimanapun akan muncul di perasaan kita. serasa cinta ama Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s