Kertas dan Pena

Apa jadinya duniaku tanpa kertas dan pena???

Aku akui, tanpa kertas dan pena, pikiranku tak bisa keluar dengan semestinya. Meski mencoba ‘melukis’ lewat keyboard, namun tak sempurna juga keluarnya segala isi pikiranku. Maka bagiku kertas dan pena adalah bagian dari warna hidupku.

Barangkali memang berawal dari sebuah pembiasaan yang bertahun-tahun lamanya. Dimana (sebenarnya) aku suka sekali menulis. Tulisan-tulisan pertamaku waktu masih seusia SD adalah surat untuk sahabat penaku. Berawal dari kegemaran membaca majalah Bobo dan Mentari, aku mencari sahabat-sahabat pena. Jika ada profil yang asyik, aku menuliskan sebuah surat untuk mereka. Meski tidak semua berbalas. Tapi kurasa waktu itu aku cukup bijak. Ahh… mungkin mereka kebanjiran surat.

Walaupun kadang surat-suratku tidak kukirim, tapi aku cukup senang bisa menulis. Menulis pada kertas surat berwarna-warni dengan gambar-gambar cantik dari Harvest– merk kertas surat langgananku. Seringnya kalimat perkenalanku berupa berlembar-lembar surat. Menulis apa saja. Entah apa yang aku pikirkan waktu itu. Yang kuingat hanyalah aku menulis dan menulis. Bercerita dan bercerita.

Sampai kemudian Papa mengenalkanku pada dunia filateli. It’s so cool. Kelas 4 SD, Papa mengajakku ke pameran Filateli. Dari situlah aku mengenal filateli. Hobi yang menuntut ketelatenan luar biasa. Sempat juga waktu itu aku mencoba mengumpulkan perangko bekas balasan surat dari sahabat penaku. Melepaskannya dengan sangat pelahan dan hati-hati dari amplopnya. Fiuuhh… menakjubkan. Tapi sepertinya bukan style-ku. 

Menulis dan menulis… berbekal pena dan kertas. Kertas apa saja. Asal bukan kertas yang sudah penuh dengan coretan atau isi. Hobi menulisku berkembang saat SMP. Ikut ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Sayang sekali waktu itu kondisinya setengah mati. Hanya ada kegiatan rekrutmen awal. Blusukan pasar mencari informasi harga bahan-bahan pokok di pasar. Dengan pikiran yang agak bingung waktu itu, ini jurnalistik atau karya ilmiah siihh?? Karena nyatanya kami tidak pernah meneliti. Hehe….

Menumpuk buku-buku dan majalah sebagai referensi, kemudian kutulislah sebuah karya pertamaku. Konsepnya ku tulis pada berlembar-lembar kertas HVS. Penuh dengan coretan. Tulisan tidak karuan. Sayang aku lupa judulnya. Yang pasti aku menulis tentang kenakalan remaja. Aku menulisnya waktu duduk dibangku SMP dan cukup puas mendapat predikat juara ketiga dalam lomba karya tulis, mengalahkan senior-seniorku.

Aku bisa katakan waktu itu yang paling tidak enak adalah menjadi juara ketiga. Paling nanggung. Karena juara pertama sudah pasti akan direkomendasikan ke tingkat yang lebih tinggi. Juara kedua prospektif untuk dibina. Maka juara ketiga, ya hanya juara ketiga. Dapat hadiah, selesai sudah cerita. Sejak saat itu aku bertekad tidak mau menjadi juara ketiga. Juara ketiga adalah kegagalan. Juara pertama, kedua, atau tidak juara sama sekali. 

Dan selama bertahun-tahun kemudian pena dan kertas menemani selalu. Notes kecil tak pernah lupa kubawa dalam perjalananku. Kadang juga aku meninggalkan pena di beberapa tempat karena lupa kumasukkan kembali ke dalam tasku. Entah coretan yang tak banyak makna atau sekedar ide. Bahkan cerita-cerita.

Aku tidak pernah disiplin dalam menulis. Notesku adalah buku harianku. Sekaligus agenda rapat, catatan kuliah, buku liqo’, sketsa gambarku, isi pikiranku, curahan hatiku, dan banyak lagi isi notes ku jika kalian pernah membukanya. Bahkan sekarang ada tulisan baru. Notes ku adalah buku resep ku. 

Dalam tulisan kali ini, aku mencoba untuk tidak menggunakan pena dan kertas sama sekali. Hmmm…. Mudah. Karena ini adalah tulisan ringan. Pada windows yang lain sedang menunggu karya tulis dalam tema yang lebih serius. Masih mencoba tanpa pena dan kertas. Alhasil, betapa lamanya pikiran terpetakan tanpa dua benda itu. Maka kubiarkan saja windows sebelah sementara tak tersentuh. 


Saat lewat tengah malam,

Surabaya, 10 Mei 2010

2 thoughts on “Kertas dan Pena

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s