KOMPARASI NASKAH : MERETAS JALAN MEMAHAMI MARKETING

Sampai hari ini aku masih berusaha meraba tentang dunia yang satu ini. MARKETING. Pada awalnya dulu sekilas terlihat menjemukan dan sangat tidak menarik. Dan jujur pada akhirnya ‘terpaksa’ mempelajarinya juga karena tuntutan study. Kemudian ketika mendapat grade yang cukup bagus pada mata kuliah ini, aku pun kembali bertanya dalam hati, “Apa yang sebenarnya kudapatkan sampai nilaiku bagus begini?”.

Karena sejujurnya, I got nothing. Kupikir karena bidang yang satu ini terlalu mudah untuk dinalar dan lebih faktual-kah atau bagaimana, aku juga tidak yakin. Ataukah mungkin grade-ku hanya keberuntungan. Oh my God, thanks! I wish for my lucky in another things. 

Baru sadar ketika suatu hari seorang teman memberiku pertanyaan, “Apa perbedaan Sales dan Marketing?”. It’s sound ‘Woww…!!’. Kenapa aku tidak pernah terpikir untuk memahami perbedaannya walaupun tahu pasti kalau jelas berbeda.

Kemudian kubuka lagi Philip Kotler – ‘Manajemen Pemasaran’, Ackerman – ‘Identity is Destiny’, dan Lingga Purnama – ‘Strategic Marketing Plan’. Oh ya ada lagi. Tapi bukunya terdampar di sebuah gudang di kost-kostan lama di Jakarta. Hehehehe….. Friedman – ‘World is Flat’. Isinya sudah nempel di kepala. Ditambah dengan sebuah artikel berseri Grow with Character! dari harian Jawa Pos (Kamis, 11 Maret 2010) yang ditulis Hermawan Kertajaya, berjudul ‘Simplicity of Al Ries : From New York City to Atlanta’. Perlu diketahui, Al Ries adalah seorang pakar dunia marketing. Salah satu buku besarnya adalah ‘Marketing Warfare’.

Semua isi naskah-naskah bercampur tidak keruan lagi di otakku. Bukan ruwet, tapi ketemu jalannya. Insya Allah…. 

Inilah yang kuraba pada akhirnya. Marketing, pada dasarnya adalah inti dari aktifitas corporate/bussiness, baik barang maupun jasa. Marketing menghubungkan produsen dengan konsumen. Dan awal dari kegiatan marketing dimulai dari identifikasi tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh konsumen? Identifikasi diawali dengan kegiatan analisa situasi pemasaran dan riset pemasaran. Bisa dilakukan survey terhadap konsumen, atau analisa terhadap lingkungan, analisis perilaku konsumen, analisa perilaku pesaing. Kemudian data dan informasi mengenai kebutuhan konsumen ini diteruskan ke bagian produksi untuk dapat diwujudkan.

Bagian selanjutnya dari marketing adalah bagaimana cara pemenuhan kebutuhan konsumen dapat diwujudkan dan sampai ke tangan konsumen? Dari sinilah kemudian muncul strategi produk, strategi harga, strategi distribusi, strategi promosi, strategi penjualannya (sampai ke tangan konsumen). Dari sinilah yang namanya selling/sales bermula. Wilayah selling menyangkut mobilitas barang mulai dari gudang/stock sampai ke tangan konsumen.

Laurence D. Ackerman dalam ‘Identity is Destiny’-nya memaparkan tentang konsep identity-based management. Ini adalah tentang konsep penciptaan nilai yang membuat unik satu corporate dengan corporate lain. Terdengar idealis ya? Memang idealis. Tapi bila konsep ini diintegrasikan dengan marketing, maka akan membantu perusahaan dalam menciptakan strategi/formula bisnis yang unik, lain dari pada yang lain. Entah itu strategi produk, sampai promosinya. Dengan identitas corporate ini, para agen-agen periklanan pun akan lebih mudah bekerja membuat iklan. Perlu diingat bahwa dalam dunia bisnis ada lingkungan eksternal yang bernama pesaing. Keunikan itulah yang kemudian sangat penting dan dibutuhkan dalam bisnis.

Sebenarnya Ackerman lebih membahas tentang penciptaan identitas di internal corporate. Misalnya pada gaya kepemimpinan CEO yang jelas berpengaruh pada penciptaan nilai dan identitas untuk karyawan atau low level management. Dan secara global, identitas ini yang kemudian membentuk gambaran unik corporate secara utuh.

Sedangkan Thomas Friedman dalam ‘World is Flat’-nya secara tidak langsung bersyukur atas kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Karena hal inilah telah mempermudah kerja-kerja marketing. Misalnya saja, tanpa harus hang arround kesana kemari, produk yang akan anda promosikan bisa terkenal di seluruh dunia hanya dengan mempublikasikannya di internet lewat e-commerce.

Terakhir, tentang strategi luar biasa yang baru aku dengar. Dan dalam artikel itu berisikan strategi marketing secara sederhana tapi dalam tentu saja. Dan ini belum aku temukan di buku manapun juga. It’s sound nice… ^_^Terdengar simple, tapi cukup mewakili pembahasan tentang strategi marketing yang bukunya seabrek-abrek dan tebal-tebal. Ada kalimat menarik yang ditulis Hermawan Kertajaya yang dikutip dari Al Ries, yaitu menganalogikan persaingan dengan peperangan.

Empat strategi marketing :

1. Defensive, kalau anda market leader. Jangan diam saja atau tidur nyenyak kalau anda sudah menjadi yang terbesar. That’s the market leader. Tapi tetap waspada dan melihat apa yang dilakukan pesaing. Serang dulu, sebelum mereka menjadi besar! Posisikan diri di atas gunung karena pemandangan yang bisa dilihat di bawah lebih luas kan.. “Pertahanan terbaik adalah penyerangan”. Dengan demikian pesaing tidak akan menjadi besar.

2. Offensive. Kalau anda pemain nomor dua atau tiga dan punya tenaga dan nyali besar, ini yang harus dilakukan! Serang saja market leader di “kekuatannya”, dengan menghantam titik lemahnya. David menghantam pas di titik lemah kekuatan Goliath dan menang! Kayak pasukan kavaleri yang maju terus secara agresif. Tapi ada resiko yang musti ditanggung. Gagal! Hancur! Karena itu perlu diperhitungkan, dibandingkan,antara kekuatan anda dan pesaing. Apakah musuhnya tidur atau waspada. Kalau tidur dan tidak menjalankan defensif, serang saja. Tapi kalau terjaga dan waspada, diam dulu.

3. Flanking strategy. Menghindar, tapi membuat sesuatu yang tidak langsung menyerang. Bagaimana membuat market leader merasa tidak diserang. Tidak perlu jor-joran mengatakan yang paling bagus dibanding market leader. Tapi cari besarkan saja keunggulan lain dari produk anda yang tidak dibesarkan oleh market leader.

4. Guerilla, kalau mau maen kucing-kucingan dan tidak mau membangunkan macan tidur. Biasanya pemain niche market. Bisa dikatakan strategi ini yang penting dapat profit dan tetap bisa melayani konsumen. Konsumennya kecil tapi banyak maunya. Huhhh…. Sepertinya aku tidak sengaja mengadopsi strategi ini untuk bisnis ‘Cookies Home Made’-ku. 

Betapa Al Ries yang dikutip Hermawan Kertajaya memperkenalkan konsep simplification. Jangan memperuwet sesuatu dengan melakukan analisis yang pada akhirnya bisa mematikan diri sendiri. Yang penting WHY harus cukup tajam tapi simple! WHAT yang clear! Trus susun action plan di HOW! That’s WHY, WHAT, HOW gaya Al Ries. The success formula is simple as that! Wow…

This is it! Marketing dalam rabaanku dengan mengkomparasikan sumber-sumber yang saat ini sedang aku pegang. Yang memang sengaja aku raba untuk keperluan pemahaman terhadap study-ku dan juga untuk mencari ‘klik’ dari bisnis yang sedang dan akan aku jalankan. It’s my way… ^_^

2 thoughts on “KOMPARASI NASKAH : MERETAS JALAN MEMAHAMI MARKETING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s