MATA

Setiap kali aku bercermin, menyisir rambut, merapikan jilbab, tak pernah aku lalai bersitatap dengan bayangan mataku. Menyapanya selamat pagi kala merekah fajar, atau selamat malam kala terang rembulan lembut dalam kelam malam. Mataku indah. Begitu setidaknya kata orang-orang. Kata orang tuaku sejak aku dilahirkan. Juga kata nenek buyutku setiap menimangku.

Dua bulan lalu, seorang lelaki dengan keterusterangannya tanpa bumbu merayu, masih mengatakan mataku indah. Seperti Dian yang bercahaya menembus sampai ke langit. Sering kali dalam diamnya, dia menatapku dalam. Sangat dalam. Tidak melihat parasku. Tapi menatap di kedalaman mataku seolah ingin mengukur dalamnya samudera.

Aghh… aku tidak mau dia terpesona dengan material-material di kedalaman mataku. Maka sejak saat itu aku tak pernah lagi memberinya kesempatan menatapku. Pun aku tak pernah lagi berani mempertemukan mata indahku dengan mata elangnya. Terlalu riskan. Karena aku tak mau mata indahku tergores oleh mata elangnya yang tajam.

Entah kemudian, aku tak tahu sejak kapan, semakin kurasa mataku tak lagi indah. Nyalanya semakin redup, serupa dian yang terhempas angin kesana-kemari. Bahkan bersitatap dengan cahaya dengan intensitas rendahpun serasa enggan karena kesilauan.

Ada apa dengan mataku? Benarkah mataku kini tak lagi indah? Tergerus semakin tuanya zaman kah? Atau…???

Aku menatap dalam bayangan mataku sendiri. Memulai sapaan selamat malam dan coba menerobos dari pantulan cermin untuk mengetahui apa yang terjadi.

Dalam… semakin dalam. Aku tersentak. Gelap sekali… kemana sinar mataku? Tak sanggup lagi menerobos, kupejamkan mataku… terdiam dalam pikiran yang bergemuruh menari-nari.

Slide-slide itu bermunculan di benakku. Tentang orang-orang yang terpesona dengan mata indahku. Yach… parasku memang standar. Tapi mataku teramat mempesona. Bahkan seorang bayi yang baru berlatih berjalan terpesona menatapku. Merengkuhku dan memelukku hangat dengan tangannya yang mungil. Tak mau kulepas. Ini bayi siapa? Aku saja baru melihatnya.

Juga tentang seorang sebaya ayahku yang sebangku denganku di bus. Seolah dia sudah lama mengenalku. Dia katakan bahwa aku cerdas dan itu terlihat dari sinar mataku. Ditawarinya aku posisi penting di institusinya. Aghh… mataku seperti magnet kah?

Tentang lelaki-lelaki yang pernah menjadi cerita dalam perjalanan hidupku. Terpesona karena keindahan mataku. Entah apakah mereka menjadikan mataku hanya sebagai pembenaran untuk perasaan mereka saja ataukah memang demikian adanya.

Sinar mataku tak pernah redup. Baru kutahu sekali ini sinar mataku jadi begini. Kemana gerangan sinar mataku? Apa yang harus kulakukan untuk membangkitkannya lagi? Bila lampu bias menyala karena energy listik dan energy listrik ada karena sumber pembangkit listrik macam air atau nuklir, lantas apakah sinar mataku mati karena sumber pembangkitnya mati pula?

Pikirku terus melayang seumpama astronaut di luar angkasa, dalam diam dan mata terpejam. Tak juga aku bertemu jawaban.

Dini hari ini telah tertembus. Berlalu pagi. Kemudian malam lagi. Demikian seterusnya, aku menembus dari malam ke malam, dini hari ke dini hari, hingga pagi ke pagi. Melalui hari ke hari, bulan ke bulan. Menjelajah dari satu sudut bumi ke sudut lain. Dengan sinar mata yang padam dan kehilangan pesonanya.

Bila bertemu cermin aku hanya pejamkan mata. Menyisir rambut, merapikan jilbab, hanya mata terpejam.

Sampai pada suatu malam selepas senja pada suatu perjalanan pengembaraanku, aku bertemu perempuan seumur nenekku di sebuah masjid. Mungkin masjid ini lebih muda dari usia nenek itu. Dia buta. Aku baru tahu ketika dia meminta tolong padaku untuk mencarikan sandalnya.

Nenek itu memang sudah sedemikian sepuh. Pun buta. Tapi… kenapa aku melihat matanya bersinar, padahal dia buta dan termakan usia. Lama kuamati nenek itu. Hingga tanpa sadar dia urung untuk pergi.

Nenek itu seperti tahu kalau aku sedang memandanginya. Diajaknya aku duduk kembali di suatu sudut masjid. Tanpa ragu dengan segala rasa ingin tahu dan beban yang kualami karena kehilangan sinar mata ini, aku ceritakan semua pada nenek ini. Bahwa aku kehilangan sinar mataku. Bahwa mataku tak lagi mempesona. Berharap sekali nenek ini bisa memberiku jawaban.

Pada akhirnya aku tahu bahwa sinar mata itu adalah cerminan hati dan perasaan. Hati adalah segumpal darah yang harus diperlakukan khusus. Dia adalah cerminan sikap dan perilaku kita. Semakin banyak kebajikan yang terukir, maka hati itu semakin terang. Sebaliknya, semakin busuk hal yang kita perbuat, semakin kelam dan gelap tertutup noda kejahatan.

Sinar mata juga dibangkitkan oleh perasaan. Memang hal-hal yang menyangkut perasaan amat sulit dijelaskan. Semakin kuat perasaan, semakin teranglah sinar mata. Dan hal yang membuat perasaan kuat itu adalah cinta.

Itulah alasan kenapa tiap bayi yang baru dilahirkan mempunyai sinar mata yang terang, lebih terang dibanding saat usianya sudah menginjak 20 tahun. Jangan dikira bayi tidak mengenal cinta dan tidak memiliki hati. Bayi punya. Hati mereka masih suci. Bersih. Pun dia kenal cinta karena dia terlahir dari cinta dan disambut dengan cinta. Bahkan bayi hanya kenal cinta, tak kenal benci.

Di masjid ini pula aku tersungkur sujud. Demi Allah, sungguh telah banyak noda yang aku tempelkan pada hatiku sendiri. Sungguh telah kumatikan perasaan cintaku dan menggantinya dengan formula benci. Sungguh… betapa aku menjadi makhlukNya yang teramat bodoh. Aku tahu tapi tidak mau tahu. Sampai Allah menjadikanku makhluk bermata tetapi buta. Itu karena demikian bodohnya aku.

Air mataku terus mengalir dalam sujud panjangku. Ingin merangkai istighfar hingga sampai ke arsy Ilahi. Biar DIA terima langsung pesan taubatku. Dan berjuta harap DIA yang pengampun memaafkanku penuh.

Aku perempuan seperempat abad yang terseret arus dunia. Penjelajah kesenangan dunia. Dibalik gedung-gedung angkuh yang hendak menembbus langit, yang ku ingat hanya angka dan angka. Hingga terlupa sebuah nama yang bila kulafadzkan akan menjadi sangat luar biasa.

Aku perempuan seperempat abad yang terpukau dengan sinar dunia. Kupikir betapa terang dan indahnya. Berwarna-warni rupanya. Dibalik riuhnya orang-orang berlalu lalang mengelilingi dunia, yang kuingat hanya indahnya polesan karya manusia. Hingga lupa anugerah alam dengan arsitek Ilahi ternyata lebih luar biasa dari manusia yang asalnya bodoh tak tahu apa-apa.

Aku perempuan seperempat abad yang larut dalam hiruk-pikuk dunia. Kupikir hidup adalah persaingan. Siapa cepat, dia dapat. Hingga mengganggap tiap orang adalah saingan. Aku lupa akan cinta. Semua yang ada terasa biasa saja. Bahkan siraman cinta yang aku dapat sungguh terasa biasa saja. Pantas saja Tuhan enggan padaku, karena aku menjadi perempuan yang sudah seperempat abad lebih yang dingin tanpa cinta.

Ilahi… mohon ampuni aku.

 

Surabaya, 19 November 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s