Dunia Anak-Anak

Rayakan keberhasilanmu! Demikian kata buku motivasi. Yah… aku menulis secuplik artikel ini untuk merayakan keberhasilanku akan sebuah perubahan evolusif yang fundamental menurutku.

It’s about me and child. Yeach… betapa diriku di masa lalu sedemikian ogah nya untuk mendekati anak-anak. Selalu menolak menggendong bayi dengan alasan takut, padahal sebenarnya tidak bisa karena tidak terbiasa. Bahkan dengan tegas aku sering katakan sama teman-teman, “Aku benci anak-anak!”.

Dalam stigmaku, dunia anak-anak adalah dunia yang berisik, bising, crowded, ancur, dan semacamnya. Selain itu emang susah banget deket sama anak-anak. Mungkin karena sedari awal sudah memasang portal dan rambu-rambu ‘Anak-anak dilarang mendekat!’.

Meski aku punya adek bungsu dengan beda usia 15 tahun dariku, tapi jelas saja adek sangat berbeda dengan anak orang laen. Meski dulu juga pernah bekerja pada sebuah yayasan pendidikan dengan bejibun anak di dalamnya, tiap hari ketemu, tiap hari ‘terpaksa’ berinteraksi, tiap hari ‘di-berisik-in’, tetap stigma ku tidak berubah. Stigma negatifku terhadap dunia anak tidak bergeming. I hate them..

Pernah pada suatu ketika temanku bertanya alasanku. Dan bukankah perempuan itu punya kodrat yang tidak bisa dihindari. Melahirkan anak, merawat anak, mendidik anak. Lantas bagaimana aku nantinya dengan kodrat yang semacam itu? Begitu pertanyaan temenku. Bahkan aku diceramahi panjang lebar dan coba diprovokasi untuk menyukai dunia anak yang buat dia menyenangkan.

Tentu saja aku bersungut kala itu. Kukatakan kalau aku akan berubah dengan caraku! Beradaptasi dengan dunia anak dengan caraku! Step by step, naturally! Tidak perlu diajari karena ibu-ibu muda yang baru berpengalaman pun menjadi terbiasa dan berpengalaman dengan caranya, bukan dengan cara orang lain. Haha… entah! Mungkin saat aku katakana itu, bisa jadi hanya sebagai pembenaran dari tindakanku.

Time by time, day by day… aku merasa berubah. Sepertinya aku tak lagi antipasti terhadap anak-anak. Meski belum bisa dikatakan dekat. Tapi setidaknya aku menikmati setiap momentku bersama anak-anak. Dimana saja, kapan saja, dan bersama anak siapa saja.

Kadang muncul ekspresi kegembiraan yang spontan saat ada anak-anak di dekatku. Kenakalannya bagiku adalah tantangan untuk menakhlukkan. Kelucuannya adalah ibarat oase di gurun gersang. Keluguannya semacam menjadi tanggung jawab orang dewasa. Keriangannya membangkitkan perasaan sensitifitas cinta.

Yach… Aku sudah berubah stigma. Dunia anak-anak adalah keajaiban cinta, kekuatan dalam kelemahan, dan kejujuran. Bahkan disatu sisi dunia anak-anak ini mengajarkan kita yang mengaku dewasa tentang makna integritas dan komitmen pada moral dan intelektual. Tidak ada logika politik atau kekuasaan yang menjadi makanan sehari-hari orang dewasa.

Pernah suatu ketika sedang menunggu bis kota, disapa oleh seorang anak perempuan usia sekitar 4 tahunan. “Kakak mau berangkat mengaji ya? Besok kalau aku sudah besar pengen pake jilbab kayak kakak…”

Sontak aku kaget. Ya ampun anak ini polosnya… Namun aku hanya sempat tersenyum dan mengelus rambutnya sebelum akhirnya bisku tiba. Matanya bening sekali. Dalam hati aku berdoa, semoga Allah menetapkan hidayah padanya.

Hhh… Barangkali sebagian besar dari kita lupa tentang tugas menanamkan integritas dan komitmen moral dan intelektual pada anak-anak. Aku yakin semua kita paham tentang hal itu. Tapi hanya kurang menambahkan misi tersebut pada list kewajiban hidup kita. Anda tidak perlu aktif sebagai volunteer LSM yang concern pada masalah anak. Karena dimana saja anak-anak itu bisa kita temukan.

Menanamkan integritas dan komitmen moral intelektual itu penting untuk meningkatkan derajat kebangsaan negeri ini di masa datang. Karena anak-anak adalah asset bangsa. Merekalah yang nantinya menjadi pengusung impian semua orang, perubahan kearah yang lebih baik. Bangsa ini butuh sokongan generasi yang punya integritas dan komitmen moral intelektual. Dan itu pastinya akan kita tanamkan pada anak-anak. Anak anda, anak mereka, anak kita semua.

Uffhhh… rasanya tidak ingin membiarkan anak jalanan di luar sana berkembang tanpa bimbingan dan arahan yang tepat. Seandainya saja di antara mereka ada satu saja manusia dewasa, berkomitmen pada moral dan intelektual. Aghh… rasanya mau jadi salah satu diantaranya.

Let’s change, beib…!! For the better future of Indonesia. Justice and welfare is our destiny.. ^_^

 

Kediri, 5 Oktober 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s