MONEY POLITIC – catatan pilkada kota Kediri 2008 lalu

Kediri, 23 Oktober 2008

Hari ini, Kota Kediri berpesta demokrasi-menyelenggarakan pemungutan suara untuk pemilihan Wali Kota Kediri untuk periode 2009-2014. Masyarakat Kota Kediri yang mempunyai hak pilih  datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan mencoblos pasangan calon sesuai plihannya.

Sebenarnya prosesi pencoblosan itu tidak terlalu menarik. Yang menarik adalah justru polah tingkah dan segala macemnya para kandidat dan warga masyarakat sejak pra kampanye, pas kampanye, dan menjelang pencoblosan. Setelahnya kyk nya agak kurang menarik untuk diperhatikan.

Kali ini aku memilih untuk menjadi pengamat saja. Halah! Alias apatis euyy…!!

Berdasarkan analisaku, sepertinya peta suara mulai berubah tadi malam. Seiring janji2 timses kandidat yang mau bagi duit untuk ‘membeli suara’ masyarakat, sedikit-sedikit mulai terealisasi. Mulai keliatan kandidat mana (dan atau timsesnya) yang merealisasikan janjinya untuk ‘membeli’.

Membeli suara memang bukan hal yang asing lagi. Istilah kerennya ‘money politics’. Yang ini money politics bentuk yang laen. Memberi uang kepada orang yang memiliki hak suara dengan tujuan ‘menyuap’ tuh orang biar mmilih kandidat tertentu. Begitulah…. Hal ini emang sama sekali nggak mendidik masyarakat. Bahkan ini juga tindakan curang. Pengecut. Nggak fair. Namanya pesta demokrasi jadi nggak demokratis bngt klo ada money politicnya.

Terlepas dari semua hal negatif tentang money politic, ternyata money politics ada manfaatnya juga lho.

Liatlah negeri kita. Berapa sih jumlah pemilih cerdasnya?? Dikit banget pastinya. Pemilih di negeri kita kebanyakan adalah orang-orang yang apatis dan nggak peduli pada perubahan. Nggak peduli pada politik dan tetek bengeknya. Karena fokus dan prioritas masyarakat kita masih mbulet seputar urusan perut. Yok opo carane dapetin nasi buat makan keluarganya. Praktis banget kan yah. Ya jangan salah. Coz emng tingkat pendidikan masih rendah dan kemiskinan yang masih membelenggu.

Makanya tingkat golput di negeri kita masih tinggi. Bukan karena mereka kritis lantaran tidak puas dengan calon yang ada, melainkan apatis dengan hal-hal yang buat mereka ‘gak penting’.

Berdasar kondisi itulah, kerasa banget bahwa money politic itu ada positifnya. Yaitu menggerakkan masyarakat untuk datang ke TPS – nyoblos. Rasanya dengan money politic itu suara golput bisa ditekan deh.

Simple aja sih menurut masyarakat awam. Berapa pun duit yang dibagikan, mereka terima aja. Kapan lagi dapet duitnya klo gak sekarang? Toh klo pun terpilih nanti, mereka gak akan kecipratan langsung duitnya. Belum tentu juga kalau terpilih apa-apa yang udah dijanjikan bisa terealisasi. So… Terima duitnya, coblos orangnya. Simple kan ya? Ya simple. Ngapain repot2. :D
Begitulah realitanya sodara. Peta suara pemilih di Kediri yang aku bilang tadi berubahnya karena uang dari para kandidat mulai beredar. Kandidat mana yang paling banyak mengeluarkan uang, boleh jadi dia bisa jadi pemenang di TPS warga. Dengan catatan, masyarakatnya apatis, bukan tipe masyarakat kritis.

Hmmmm….. Tapi jangan dicoba ya sodara. Ini hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang ‘terlatih’ untuk itu. Hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s