Fenomena PKS

RESONANSI

OLEH AZYUMARDI AZRA
Banyak kalangan Parpol mungkin agak nervous dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belakangan
ini. Khususnya setelah dua pasang cagub dan cawagub yang didukung PKS (sebenarnya lewat koalisi
dengan partai lain) memenangkan pilkada di Jawa Barat dan Sumatra Utara. Bukan hanya kalangan
parpol lainnya, tetapi juga sementara pengamat dalam dan luar negeri mengambil kasus di kedua
daerah tersebut sebagai pertanda awal dari peningkatan suara PKS dalam Pemilu 2009 nanti.

Mengapa nervous? Tidak lain karena selama ini PKS dianggap sebagai partai yang akan mengubah
Indonesia menjadi ‘negara Islam’ dan menerapkan ‘syariah’, tegasnya hukum hudud, potong tangan,
dan rajam kepada para pelaku kejahatan yang menurut fikih klasik perlu dijatuhi hukuman seperti itu.
PKS juga tidak jarang dianggap lebih berorientasi transnasional; disebut-sebut banyak dipengaruhi
organisasi al-Ikhwan al-Muslimun yang sampai sekarang terlarang di Mesir.

Apakah PKS memang seperti itu? Saya beruntung mendapat kesempatan mendalami PKS ketika
diundang pimpinan PKS dalam Milad ke-10 PKS, Ahad pekan lalu (20/4/ 2008). Bersamaan dengan
itu juga diselenggarakan pembahasan buku Memperjuangkan Masyarakat Madani: Falsafah Dasar dan
Platform Kebijakan Pembangunan PK Sejahtera (2008) dengan pembahas Ketua Mahkamah
Konstitusi, Jimly Asshiddiqie; Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati; dan saya sendiri.

Diminta membahas platform PKS dalam bidang sosial-budaya (termasuk agama), saya menemukan
bahwa buku setebal xxii+543 halaman ini secara komprehensif membahas berbagai subjek, sejak dari
paradigma PKS; kondisi nasional dan permasalahan bangsa dalam bidang politik, ekonomi, sosial
budaya; lingkungan strategis dan Indonesia yang dicitacitakan, sampai pada platform PKS untuk
mengatasi berbagai masalah tersebut menuju Indonesia yang dicita-citakan. Saya percaya, tidak
banyak parpol yang memiliki platform yang selengkap dan serinci platform PKS; meski dalam segi-segi
tertentu, tidak banyak pembahasan tentang ‘bagaimana’ cara dan langkah sistematis mewujudkan
platform tersebut.

Negara Indonesia bagaimanakah yang dicita- citakan PKS? Jawabannya jelas dalam tujuan pendirian
PKS: ”Tujuan didirikannya PK Sejahtera adalah terwujudnya masyarakat madani yang adil dan
sejahtera yang diridhai Allah SWT dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia . PK
Sejahtera menyadari pluralitas etnik dan agama masyarakat Indonesia yang mengisi wilayah beribu
pulau dan beratus suku yang membentang dari Sabang hingga Merauke”.ഊ‘Masyarakat madani’. Inilah salah satu kata kunci untuk lebih memahami PKS. Apa yang dimaksud
PKS dengan ‘masyarakat madani’? Masyarakat madani adalah masyarakat berperadaban tinggi dan
maju yang berbasiskan pada: nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang keimanan; menghormati
pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.

Pengertian genuine dari masyarakat madani itu perlu dipadukan dengan konteks masyarakat Indonesia
di masa kini yang terikat dalam ukhuwah Islamiyyah (ikatan keislaman), ukhuwah wathaniyyah
(ikatan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyyah (ikatan kemanusiaan) dalam bingkai NKRI”.

Dengan platform ini, sekali lagi, jelas, PKS tidaklah bertujuan membentuk ‘negara Islam’ atau yang
semacamnya, melainkan bertujuan membentuk masyarakat madani. Jelas pula, masyarakat madani
yang diinginkan PKS adalah masyarakat madani yang berbasiskan agama (religious-based civil
society); bukanlah masyarakat sipil atau masyarakat kewargaan yang dalam sejumlah wacana tentang
civil society tidak memiliki konotasi apalagi hubungan dengan agama. Konsep masyarakat madani
yang akhir ini pada dasarnya merupakan teoretisasi dari pengalaman di Eropa Timur dan Amerika
Latin.

Dalam konteks penciptaan masyarakat madani itu yang memungkinkan bagi umat beragama untuk
melaksanakan ajaran dan menghadirkan syariah Islam yang rahmatan lil alamin, PKS menawarkan
gagasan tentang ‘objektivikasi Islam’, atau persisnya ‘objektivikasi nilai-nilai Islam’. Hemat saya, ini
adalah sebuah gagasan atau bahkan konsep yang sangat menarik.

Apa yang dimaksud PKS dengan ‘objektivikasi Islam’ tersebut? Dalam perspektif PKS, objektivikasi
nilai-nilai Islam adalah proses transposisi konsep atau ideologi dari wilayah personal-subjektif ke
ranah publikobjektif; dari ranah internal merambah ke wilayah eksternal, agar bisa diterima secara
luas oleh publik. Secara subjektif, setiap Muslim berkeinginan agar syariat Islam diterapkan oleh
negara. Namun, keinginan subjektif tersebut agar dapat dimenangkan di wilayah publik mesti
memenuhi kriteria-kriteria tertentu seperti: kesesuaian dengan konteks dari segi ruang dan waktu;
mempunyai hubungan rasional-organik; memenuhi rule of the game; memenuhi prinsip pluralitas dan
kehidupan bersama (non-diskriminatif) dan; resolusi konflik agar konsep dan ide tadi memenuhi
prinsip keadilan publik.

Republika. Kamis, 24 April 2008. hal. 12.
Sumber: http://www.republik a.co.id/kolom_ detail.asp? id=331501&kat_id=19

2 thoughts on “Fenomena PKS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s