AKU PEREMPUAN, MELUKIS USIA

Melangkah pada malam-malam selepas senja tenggelam
Menghirup dalam-dalam aroma udara basah
hingga sepenuh paru-paru.

Lukisanku pada kanvas kehidupan belumlah purna
Dan warna-warna masih riuh bercerita
Tentang perjalanan pada lorong-lorong cahaya,
tentang petualangan melintas gunung dan lembah,
melewati tebing dan jurang,
menembus kabut pekat.
Tentang savana dibalik bukit, tentang laut biru di ujung cakrawala,
dan ttg impian terbang melintas gugusan awan.

Melukis kembara kehidupan
Melintas
Menerjang
Menembus batas
Mendaki
Memburu
Berlari
Jatuh dan berdiri.

Aku menghela nafas lelah
Berdiri pada batas kepayahan
Antara maya dan nyata.

Tersadar akan irama syahdu
Menghentak seluruh sendi
Menyadarkan sepenuh jiwa raga
“AKU adalah dekat…”

Dalam sadar aku masih bernafas
Aku masih punya waktu
Dan masih harus terus menjalin rasa dan asa,
dengan warna citra hidup yang masih tersisa,
pada kanvas bernyawa.
Hingga saatnya nanti tiba pada terminal realita
Saat bilangan usia tak mampu lagi bertambah
Sedang waktu tak mungkin kembali.

Dan aku bukan perempuan lemah,
berteriak terluka,
terkulai,
menyerah pada masa.

Aku perempuan tangguh
tak ingin kecewa pada masa usia,
tak akan menyerah
sebelum tuntas lukisanku pada kanvas bernyawa,
kanvas kehidupan.

“Dan AKU adalah dekat….”

2 Tanggapan ke “AKU PEREMPUAN, MELUKIS USIA”

  1. Omong opo iki?…….

  2. Ora opo2… :-D


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.