Dian April’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Nov
26

Kediri- 24 Oktober 2008

 

Masih seputar pilwali guest, tapi aku pengen crita about my family.

Keluargaku yang punya hak pilih pada pilwali kali ini ada 6 orang. Taukah anda, bahwa dari 6 orang itu kami punya pilihan yang berbeda satu sama lainnya? Hehe… Gak biasa aja sih. Karena keluarga temen-temenku biasanya seragam untuk urusan afiliasi politik. Yah… maklum saja. Karena pilwali kali ini kandidatnya aja ada 8 orang. Itu sudah sangat cukup buat kami untuk menentukan pilihan sesuai dengan keyakinan kami masing-masing. Mama papa aja nggak sama. Kita – anak-anaknya boleh beda juga donk…

Di rumah ini lah aku belajar berdemokrasi.Walaupun kadang terkesan permisif ataupun terkesan sangat bebas, tapi itu hanyalah efek dari sebuah konsekuensi pilihan hidup. Untuk hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama, maka harus melalui mekanisme musyawarah. Sedang untuk kepentingan pribadi, adalah hak masing-masing untuk menentukan pilihan.

Di rumah inilah aku belajar bahwa hidup adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan kita. Bila kemudian ternyata baru kita ketahui bahwa pilihan kita itu salah, disitulah letak pembelajarannya. Kesalahan pada akhirnya bukan untuk disesali tapi dijadikan pelajaran untuk melangkah ke depannya.

Di rumah inilah aku belajar bagaimana menghargai perbedaan. Walau terkadang dengan keras kepalanya aku dan keinginan yang kadang maunya dituruti, tapi aku tau bahwa masing-masing pribadi dari keluargaku berbeda satu sama lainnya. Maka hargailah.

Sekaligus di rumah ini juga aku mengenal kebebasan. Memang bebas itu tak pernah mutlak. Tapi setidaknya aku tahu bahwa jiwa ini, pikiran ini tak bisa terikat dan akan terus mengembara. Seperti manusia yang selalu haus akan ilmu sementara ilmu Allah itu luas dan gak akan pernah ada habisnya.

Di luar rumah aku boleh saja terikat atau mempunyai cara pandang tertentu. Tapi di dalam rumah, jangan kira bisa membawa masuk ikatan tadi. Misalnya urusan afiliasi partai politik. Orang serumah juga tau aku ikut afiliasi yang mana. Orang serumah juga tau afiliasiku seperti apa. Tapi jangan coba untuk menanamkan pengaruh ke orang rumah, alias gak boleh kampanye di rumah. Hehe… :D

OK! Thank a lot Mommy & Daddy. I love u all…

Nov
26

Kediri, 23 Oktober 2008

Hari ini, Kota Kediri berpesta demokrasi-menyelenggarakan pemungutan suara untuk pemilihan Wali Kota Kediri untuk periode 2009-2014. Masyarakat Kota Kediri yang mempunyai hak pilih  datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan mencoblos pasangan calon sesuai plihannya.

Sebenarnya prosesi pencoblosan itu tidak terlalu menarik. Yang menarik adalah justru polah tingkah dan segala macemnya para kandidat dan warga masyarakat sejak pra kampanye, pas kampanye, dan menjelang pencoblosan. Setelahnya kyk nya agak kurang menarik untuk diperhatikan.

Kali ini aku memilih untuk menjadi pengamat saja. Halah! Alias apatis euyy…!!

Berdasarkan analisaku, sepertinya peta suara mulai berubah tadi malam. Seiring janji2 timses kandidat yang mau bagi duit untuk ‘membeli suara’ masyarakat, sedikit-sedikit mulai terealisasi. Mulai keliatan kandidat mana (dan atau timsesnya) yang merealisasikan janjinya untuk ‘membeli’.

Membeli suara memang bukan hal yang asing lagi. Istilah kerennya ‘money politics’. Yang ini money politics bentuk yang laen. Memberi uang kepada orang yang memiliki hak suara dengan tujuan ‘menyuap’ tuh orang biar mmilih kandidat tertentu. Begitulah…. Hal ini emang sama sekali nggak mendidik masyarakat. Bahkan ini juga tindakan curang. Pengecut. Nggak fair. Namanya pesta demokrasi jadi nggak demokratis bngt klo ada money politicnya.

Terlepas dari semua hal negatif tentang money politic, ternyata money politics ada manfaatnya juga lho.

Liatlah negeri kita. Berapa sih jumlah pemilih cerdasnya?? Dikit banget pastinya. Pemilih di negeri kita kebanyakan adalah orang-orang yang apatis dan nggak peduli pada perubahan. Nggak peduli pada politik dan tetek bengeknya. Karena fokus dan prioritas masyarakat kita masih mbulet seputar urusan perut. Yok opo carane dapetin nasi buat makan keluarganya. Praktis banget kan yah. Ya jangan salah. Coz emng tingkat pendidikan masih rendah dan kemiskinan yang masih membelenggu.

Makanya tingkat golput di negeri kita masih tinggi. Bukan karena mereka kritis lantaran tidak puas dengan calon yang ada, melainkan apatis dengan hal-hal yang buat mereka ‘gak penting’.

Berdasar kondisi itulah, kerasa banget bahwa money politic itu ada positifnya. Yaitu menggerakkan masyarakat untuk datang ke TPS – nyoblos. Rasanya dengan money politic itu suara golput bisa ditekan deh.

Simple aja sih menurut masyarakat awam. Berapa pun duit yang dibagikan, mereka terima aja. Kapan lagi dapet duitnya klo gak sekarang? Toh klo pun terpilih nanti, mereka gak akan kecipratan langsung duitnya. Belum tentu juga kalau terpilih apa-apa yang udah dijanjikan bisa terealisasi. So… Terima duitnya, coblos orangnya. Simple kan ya? Ya simple. Ngapain repot2. :D
Begitulah realitanya sodara. Peta suara pemilih di Kediri yang aku bilang tadi berubahnya karena uang dari para kandidat mulai beredar. Kandidat mana yang paling banyak mengeluarkan uang, boleh jadi dia bisa jadi pemenang di TPS warga. Dengan catatan, masyarakatnya apatis, bukan tipe masyarakat kritis.

Hmmmm….. Tapi jangan dicoba ya sodara. Ini hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang ‘terlatih’ untuk itu. Hehe…

Nov
26

Pohon flamboyan yang kutanam 5 tahun lalu

Kini telah tinggi melebihi keponakanku yang pandai berlari

Berbunga rimbun merah jingga kala berseminya

Berpadu dengan senja yang masih saja indah

dan akan selalu indah

Entah burung apa terkadang turut menghias

Sekedar singgah dari perjalanan mencari makan

Bersemi memanjakan mata

Syahdu dengan suara merdu

Flamboyan yang tumbuh bersemi 5 tahun ini

Kini telah tinggi dan berbunga merah jingga

Tapi senja telah pergi

Tertutup gedung tinggi dan bukit gersang nan angkuh

Tapi lukisan flamboyan dan senjaku telah terpatri

dalam segenap rasa dan jiwaku

Pada sebuah bingkai lukisan abadi

Menggantung rapi di langit hati

Bersama kisah ‘Bidadari yang Terluka‘ dan ‘Siti Nurbaya

 

Surabaya, 18 Oktober 2008

Nov
26

Wuihhh…. Dah lebih setahun berlalu trnyt emang blog ku tidak lagi terupdate. Bukan males nulis sih… tapi lebih karena males up load. Kadang juga males ngetik. (enak nyoret2 kali yaaa… ;D)

Ok aku nulis lagi. Tetap dalam nuansa merah jingga. Hanya saja saat ini langit sedang tidak merah jingga. Langit sedang kelam tertutup mendung. Hujan deras mengguyur. Aroma tanah basah segar sekali…

Jadi kepengen maen air. Pengen pergi ke air terjun. Air terjun mana aja deh, mumpung besok long weekend. Hmmmm…..

I hope, I can.

Okt
17

Apa kabar blog ku? Lama tak kugoreskan sebentuk kisah ataupun secuil keisengan pada page ini. Lama bangeeeettt…

Apa kabar blog ku? Aku sekarang di Kediri. Back to my home town. Merapikan kembali serpihan-serpihan hati yang retak untuk sebuah asa.

Apa kabar blog ku? Aku masih tegar disini, dalam berlikunya dinamisasi hidup. Aku masih lantang berteriak tentang lambatnya anak jaman yang senang molor padahal perang dunia ketiga sebentar lagi. Padahal mata uang dajal semakin banyak beredar seiring kehancuran fundamental ekonomi karena sifat ‘derivatif’ nya.

Apa kabar blog ku? Aku masih berkarya. Dan akan tetap berkarya. Selagi tidak ada penyakit dalam segenap potensi yang Allah berikan padaku, selagi nyawa masih melekat dalam jasadku.

Apa kabar blog ku? Hidupkan selalu nafas dinamisasi dalam hidupku.

Jul
15

Tampilan baru….

Dark tp lembut. :)

Jun
20

Jun
20

Aku suka gunung. Bagiku gunung tempat yang asyik untuk berkontemplasi. Tempat yang cocok untuk sesaat menemukan kedamaian.

Aku suka gunung. Karena ketika aku dipuncak, berasa betapa aku ini perkasa. Aku kuat. Aku tangguh. Aku kokoh.

Aku suka gunung. Karena disinilah sepertinya nyawaku kembali penuh.

Di jakarta nggak ada gunung. Kalau pun ada paling2 Gunung Agung (TB) atau gunung Sahari (Jalan). Tapi di jakarta banyak tempat yang tinggi. Banyak gedung-gedung yang menjulang. Dan aku juga suka.

At this time…. Aku diatas gedung. Walaupun cuma dari lantai 17 sudah bisa kulihat penuh Jakarta sekitar bundaran HI. Dan aku suka.

Aku diam… kemudian tersentak. Kenapa aku ingin meninggalkan kota yang angkuh tapi indah ini? Kenapa ingin kutinggalkan kota yang selalu bernyawa ini? Apa aku tak salah?

Lihatlah… Kota ini selalu berdenyut tanpa henti. Selalu bernyawa.

Lihatlah… Kau bisa begitu perkasa dan tinggi diatas sini.

Lihatlah… Bukankah ini hal yang selalu ada dalam benakmu. Denyut yang tak kan berhenti. Nafas yang tak akan terputus.

Tapi kenapa ingin kau tinggalkan, dee? Sedangkan kau tau pasti akan lebih banyak tangismu kala kau pergi dari sini. Sedangkan kau tau pasti akan banyak sekali lelah yang akan kau curahkan disana nanti. Kenapa pergi??

Disini indah, dee…

Disana kau hanya akan menjemput ketidakpastian. Don’t go!! Please don’t go…

Disini pun kau punya sejuta cinta. Don’t go, dee….

Jakarta… I will miss u, maybe. Tidak seperti Malang yang kutinggalkan dan kemudian tidak ingin aku kembali. Maybe someday I’ll back again. Maybe…

Jun
18

Negara – Jerman
Manager – Jürgen Klinsmann
Kapten – Michael Ballack

Goalkeepers: Timo Hildebrand, Oliver Kahn, Jens Lehmann
Defenders: Arne Friedrich, Andreas Hinkel, Robert Huth, Philipp Lahm, Per Mertesacker, Patrick Owomoyela, Christian Wörns
Midfielders: Michael Ballack, Tim Borowski, Sebastian Deisler, Fabian Ernst, Torsten Frings, Thomas Hitzlsperger, Bernd Schneider, Bastian Schweinsteiger
Forwards: Gerald Asamoah, Thomas Brdaric, Mike Hanke, Miroslav Klose, Kevin Kuranyi, Benjamin Lauth, Lukas Podolski

Jun
18

Flyer . Nggak semua dari kita nyadar bahwa sebenarnya kita niy dah banyak bersentuhan dg media yang satu ini. Dari mulai promosi acara musik, bazaar, cafe, hingga… rokok!! Mungkin karena dibuat untuk tidak bertahan lama, kita kadang-kadang menganggap remeh ‘karya seni’ yang satu ini, namun untuk sebagian orang justru sebaliknya. Flyer menjadi barang wajib untuk dimiliki bahkan dikoleksi. Kegunaan selanjutnya? Tentunya beraneka ragam, mulai dari sekedar disimpan karena visualnya yang lucu-lucu, penghias dinding kamar, atau bahkan menjadi benda komersial untuk diperjualbelikan kepada kolektor flyer karena desainnya yang langka atau karena yang membuat adalah desainer terkenal.

Pada mulanya flyer hanyalah sebuah media promosi instan dan murah, yang biasanya dibagikan secara cuma-cuma, beberapa saat sebelum event/acara tertentu akan berlangsung. Namun dalam perkembangan selanjutnya flyer tidak lagi hanya sebatas pada promosi acara melainkan merambah menjadi salah satu media promosi produk tertentu.

Ada berbagai macam versi yang menarik tentang asal usul flyer. Alkisah, nama flyer sendiri diambil dari cara mereka mendistribusikan selebaran ini pada era Perang Dunia 1, yaitu dengan menebarkannya dari atas pesawat! Dari atas!!Wah..Hebat! Pada masa itu flyer menjadi alat propaganda yang sangat efektif. Iyalah gimana gak efektif?!! Distribusinyanya aja oleh angin, yang bisa menjamah seluruh kawasan. Kebayang kan gimana ramenya hujan kertas tersebut.

Lalu apa isi dari flyer? Yang pasti berbeda-beda, tergantung pada kepentingan dari penggunaan flyer tersebut. Namun satu unsur utama yang dominan adalah informasi. Baik itu dalam bentuk teks maupun visual. Flyer pada dasarnya memang dibuat untuk memberitahu dan sekaligus  sebagai alat pendekatan yang persuasif, untuk mengajak atau bahkan membentuk opini bagi orang banyak. Fomatnya juga beraneka ragam, mungkin kalau jaman dulu bentuknya paling-paling hanya segi empat dan ukurannya kurang lebih seukuran kartu pos standar tapi kalau sekarang..hmmm..jangan heran, macem-macem!! Aneh-aneh malah! Yang segi empat aja, berukuran mulai dari A4 sampe sekecil kartu nama, bahkan ada yang bentuknya asimetris. Tapi gimana pun formatnya satu hal yang khas dari flyer adalah masa berlakunya. Flyer biasa dibagikan beberapa saat sebelum sebuah kejadian/event berlangsung dan lewat dari masa itu, informasi yang disampaikan sudah tidak ‘up to date’ lagi alias basi!….kelemahan? belum tentu! Justru hal inilah yang memungkinkan para desainer untuk bereksperimen. Pada ruang dan media yang instan ini, mereka dimungkinkan untuk bereksperimen dan menciptakan inovasi-inovasi visual yang menarik. Seperti halnya teori desain packaging, flyer pun memilki kesempatan hanya 1/5 detik untuk ‘menangkap’ mata si target audience. Para desainer pun berlomba-lomba untuk membuat desain yang paling eye catching dan memorable.

Perkembangan flyer yang sangat menarik adalah yang terjadi pada dunia clubbing/rave. Flyer mereka biasanya menginformasikan acara-acara dalam scene tersebut, baik itu tema, tempat, waktu ataupun dj yang akan tampil. Mengapa flyer menjadi penting disini? Secara historis, hubungan antara flyer sebagai media promosi sebenarnya sangat dekat dengan dengan dunia musik/klub. Bila sedikit menilik ke era 60-an, dimana pada saat itu industri musik (eropa-amerika)merupakan sebuah industri yang sedang tumbuh. Dan karena pendanaan yang terbatas, kemudian para promotor dan clubbers mencari alternatif media yang riil. Flyer kemudian menjadi opsi ‘pencerahan’, karena dengan promosi yang disampaikan langsung ke tangan audiens yang dituju, flyer menjadi strategi marketing yang relatif murah tetapi efektif. Itu pulalah pola yang terjadi pada flyer dalam dunia rave saat ini.

Menariknya lagi, semejak para desainer ‘anonymous’ ini bekerja untuk para promotor dan para pemilik klub, desain dari flyer ini menjadi responsif terhadap perkembangan style dan gaya dari scene/klub tersebut. Kebanyakan para desainer flyer ini juga seorang clubber, sehinggga mereka tau persis apa yang akan mereka buat. Hal ini jugalah yang menjadi salah satu pemicu munculnya ide-ide segar dalam flyer-flyer yang akan mereka buat, karena disini mereka bukan hanya menjadi desainer tetapi juga menjadi sang target audiens.

Desain-desain yang mengekspresikan gaya hidup mereka, semisal lansekap yang surealis, keriaan, dan penggunaan ikon kanak-kanakkan, ataupun yang mengandung tema science fiction, menjadi bahasa ekspresi yang penuh dengan etos potong tempel (cut and paste), eklektisme, dan juga ekspremintasi visual yang kental. Para desainer tersebut umumnya membuat ‘dekontruksi’ citra, misalkan pada deretan teks yang dipermak untuk menjadi bahasa rupa ataupun kebalikannya, dan inilah yang kemudian membuatnya menjadi menarik, bahwa dari selembar kertas yang bergambar ini, selain menghasilkan citraan yang atraktif, sekaligus melihat trend dan budaya yang sedang berkembang. Dalam kata lain flyer menjadi salah satu titik penentu perkembanan trend….hebat!!!

Apakah fenomena ini hanya terjadi di dunia club/rave saja? Tentu tidak. Kita lihat saja pada scene hardcore atau punk lokal kita, penggunaan media flyer menjadi pilihan yang sangat menyenangkan. Pergeseran fungsi flyer yang tadinya hanya populer di komunitas yang terbatas, diakui atau tidak kini telah mewarnai industri-indutri besar . Mulai dari promosi obral, launching produk baru, bazaar di tempat-tempat tertentu, dan masih banyak lainnya. Bahkan sekarang sudah tersebar satu rak khusus flyer. Siapa saja boleh mengambilnya dalam jumlah berapa pun!  Tentunya bagi si penyedia jasa flyer tersebut hal ini menjadi mesin uang produktif. Bagaimana tidak? Yang pasti mereka dibayar oleh perusahaan pemilik produk, namun di setiap flyer tersebt tercantum logo mereka. Secara otomomatis siklus promosi hand to hand akan terus berputar. WOW!!!! Bisnis yang menjanjikan, bukan?

Citra flyer menjadi sebuah komoditi? Tampaknya demikian. Dengan memanfaatkan citra visual progresif (yang biasa menjadi gaya desain flyer), konsumen diberi kemudahan untuk menyerap informasi produk ke dalan kehidupan mereka. Hal ini dapat diperhatikan dari flyer produk industri yang mulai ekspresif dan memanfaatkan gaya desain yang eksperimental, bukan lagi berisi informasi-informasi formal dalam bentuk teks saja, namun jauh lebih berkembang dan lebih bebas dalam berekspresi, baik secara estetika, maupun dasar fungsinya.

Pada akhirnya flyer sebagai media promosi, atau bahkan alat propaganda, memiliki kekuatan maha dasyat. Dengan lahan berekspresi dan berekspresimentasi secara visual, biaya produksi yang cenderung murah, dan tentunya efektif dan tepat dalam pendistribusian informasi, menjadikan flyer sebagai sebuah ‘alat’ yang sangat jitu! TWO TUMBS UP FOR FLYER!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Flyernya http://extraverage.net  ^_^