Dian April’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Okt
17

Apa kabar blog ku? Lama tak kugoreskan sebentuk kisah ataupun secuil keisengan pada page ini. Lama bangeeeettt…

Apa kabar blog ku? Aku sekarang di Kediri. Back to my home town. Merapikan kembali serpihan-serpihan hati yang retak untuk sebuah asa.

Apa kabar blog ku? Aku masih tegar disini, dalam berlikunya dinamisasi hidup. Aku masih lantang berteriak tentang lambatnya anak jaman yang senang molor padahal perang dunia ketiga sebentar lagi. Padahal mata uang dajal semakin banyak beredar seiring kehancuran fundamental ekonomi karena sifat ‘derivatif’ nya.

Apa kabar blog ku? Aku masih berkarya. Dan akan tetap berkarya. Selagi tidak ada penyakit dalam segenap potensi yang Allah berikan padaku, selagi nyawa masih melekat dalam jasadku.

Apa kabar blog ku? Hidupkan selalu nafas dinamisasi dalam hidupku.

Jul
15

Tampilan baru….

Dark tp lembut. :)

Jun
20

Jun
20

Aku suka gunung. Bagiku gunung tempat yang asyik untuk berkontemplasi. Tempat yang cocok untuk sesaat menemukan kedamaian.

Aku suka gunung. Karena ketika aku dipuncak, berasa betapa aku ini perkasa. Aku kuat. Aku tangguh. Aku kokoh.

Aku suka gunung. Karena disinilah sepertinya nyawaku kembali penuh.

Di jakarta nggak ada gunung. Kalau pun ada paling2 Gunung Agung (TB) atau gunung Sahari (Jalan). Tapi di jakarta banyak tempat yang tinggi. Banyak gedung-gedung yang menjulang. Dan aku juga suka.

At this time…. Aku diatas gedung. Walaupun cuma dari lantai 17 sudah bisa kulihat penuh Jakarta sekitar bundaran HI. Dan aku suka.

Aku diam… kemudian tersentak. Kenapa aku ingin meninggalkan kota yang angkuh tapi indah ini? Kenapa ingin kutinggalkan kota yang selalu bernyawa ini? Apa aku tak salah?

Lihatlah… Kota ini selalu berdenyut tanpa henti. Selalu bernyawa.

Lihatlah… Kau bisa begitu perkasa dan tinggi diatas sini.

Lihatlah… Bukankah ini hal yang selalu ada dalam benakmu. Denyut yang tak kan berhenti. Nafas yang tak akan terputus.

Tapi kenapa ingin kau tinggalkan, dee? Sedangkan kau tau pasti akan lebih banyak tangismu kala kau pergi dari sini. Sedangkan kau tau pasti akan banyak sekali lelah yang akan kau curahkan disana nanti. Kenapa pergi??

Disini indah, dee…

Disana kau hanya akan menjemput ketidakpastian. Don’t go!! Please don’t go…

Disini pun kau punya sejuta cinta. Don’t go, dee….

Jakarta… I will miss u, maybe. Tidak seperti Malang yang kutinggalkan dan kemudian tidak ingin aku kembali. Maybe someday I’ll back again. Maybe…

Jun
18

Negara – Jerman
Manager – Jürgen Klinsmann
Kapten – Michael Ballack

Goalkeepers: Timo Hildebrand, Oliver Kahn, Jens Lehmann
Defenders: Arne Friedrich, Andreas Hinkel, Robert Huth, Philipp Lahm, Per Mertesacker, Patrick Owomoyela, Christian Wörns
Midfielders: Michael Ballack, Tim Borowski, Sebastian Deisler, Fabian Ernst, Torsten Frings, Thomas Hitzlsperger, Bernd Schneider, Bastian Schweinsteiger
Forwards: Gerald Asamoah, Thomas Brdaric, Mike Hanke, Miroslav Klose, Kevin Kuranyi, Benjamin Lauth, Lukas Podolski

Jun
18

Flyer . Nggak semua dari kita nyadar bahwa sebenarnya kita niy dah banyak bersentuhan dg media yang satu ini. Dari mulai promosi acara musik, bazaar, cafe, hingga… rokok!! Mungkin karena dibuat untuk tidak bertahan lama, kita kadang-kadang menganggap remeh ‘karya seni’ yang satu ini, namun untuk sebagian orang justru sebaliknya. Flyer menjadi barang wajib untuk dimiliki bahkan dikoleksi. Kegunaan selanjutnya? Tentunya beraneka ragam, mulai dari sekedar disimpan karena visualnya yang lucu-lucu, penghias dinding kamar, atau bahkan menjadi benda komersial untuk diperjualbelikan kepada kolektor flyer karena desainnya yang langka atau karena yang membuat adalah desainer terkenal.

Pada mulanya flyer hanyalah sebuah media promosi instan dan murah, yang biasanya dibagikan secara cuma-cuma, beberapa saat sebelum event/acara tertentu akan berlangsung. Namun dalam perkembangan selanjutnya flyer tidak lagi hanya sebatas pada promosi acara melainkan merambah menjadi salah satu media promosi produk tertentu.

Ada berbagai macam versi yang menarik tentang asal usul flyer. Alkisah, nama flyer sendiri diambil dari cara mereka mendistribusikan selebaran ini pada era Perang Dunia 1, yaitu dengan menebarkannya dari atas pesawat! Dari atas!!Wah..Hebat! Pada masa itu flyer menjadi alat propaganda yang sangat efektif. Iyalah gimana gak efektif?!! Distribusinyanya aja oleh angin, yang bisa menjamah seluruh kawasan. Kebayang kan gimana ramenya hujan kertas tersebut.

Lalu apa isi dari flyer? Yang pasti berbeda-beda, tergantung pada kepentingan dari penggunaan flyer tersebut. Namun satu unsur utama yang dominan adalah informasi. Baik itu dalam bentuk teks maupun visual. Flyer pada dasarnya memang dibuat untuk memberitahu dan sekaligus  sebagai alat pendekatan yang persuasif, untuk mengajak atau bahkan membentuk opini bagi orang banyak. Fomatnya juga beraneka ragam, mungkin kalau jaman dulu bentuknya paling-paling hanya segi empat dan ukurannya kurang lebih seukuran kartu pos standar tapi kalau sekarang..hmmm..jangan heran, macem-macem!! Aneh-aneh malah! Yang segi empat aja, berukuran mulai dari A4 sampe sekecil kartu nama, bahkan ada yang bentuknya asimetris. Tapi gimana pun formatnya satu hal yang khas dari flyer adalah masa berlakunya. Flyer biasa dibagikan beberapa saat sebelum sebuah kejadian/event berlangsung dan lewat dari masa itu, informasi yang disampaikan sudah tidak ‘up to date’ lagi alias basi!….kelemahan? belum tentu! Justru hal inilah yang memungkinkan para desainer untuk bereksperimen. Pada ruang dan media yang instan ini, mereka dimungkinkan untuk bereksperimen dan menciptakan inovasi-inovasi visual yang menarik. Seperti halnya teori desain packaging, flyer pun memilki kesempatan hanya 1/5 detik untuk ‘menangkap’ mata si target audience. Para desainer pun berlomba-lomba untuk membuat desain yang paling eye catching dan memorable.

Perkembangan flyer yang sangat menarik adalah yang terjadi pada dunia clubbing/rave. Flyer mereka biasanya menginformasikan acara-acara dalam scene tersebut, baik itu tema, tempat, waktu ataupun dj yang akan tampil. Mengapa flyer menjadi penting disini? Secara historis, hubungan antara flyer sebagai media promosi sebenarnya sangat dekat dengan dengan dunia musik/klub. Bila sedikit menilik ke era 60-an, dimana pada saat itu industri musik (eropa-amerika)merupakan sebuah industri yang sedang tumbuh. Dan karena pendanaan yang terbatas, kemudian para promotor dan clubbers mencari alternatif media yang riil. Flyer kemudian menjadi opsi ‘pencerahan’, karena dengan promosi yang disampaikan langsung ke tangan audiens yang dituju, flyer menjadi strategi marketing yang relatif murah tetapi efektif. Itu pulalah pola yang terjadi pada flyer dalam dunia rave saat ini.

Menariknya lagi, semejak para desainer ‘anonymous’ ini bekerja untuk para promotor dan para pemilik klub, desain dari flyer ini menjadi responsif terhadap perkembangan style dan gaya dari scene/klub tersebut. Kebanyakan para desainer flyer ini juga seorang clubber, sehinggga mereka tau persis apa yang akan mereka buat. Hal ini jugalah yang menjadi salah satu pemicu munculnya ide-ide segar dalam flyer-flyer yang akan mereka buat, karena disini mereka bukan hanya menjadi desainer tetapi juga menjadi sang target audiens.

Desain-desain yang mengekspresikan gaya hidup mereka, semisal lansekap yang surealis, keriaan, dan penggunaan ikon kanak-kanakkan, ataupun yang mengandung tema science fiction, menjadi bahasa ekspresi yang penuh dengan etos potong tempel (cut and paste), eklektisme, dan juga ekspremintasi visual yang kental. Para desainer tersebut umumnya membuat ‘dekontruksi’ citra, misalkan pada deretan teks yang dipermak untuk menjadi bahasa rupa ataupun kebalikannya, dan inilah yang kemudian membuatnya menjadi menarik, bahwa dari selembar kertas yang bergambar ini, selain menghasilkan citraan yang atraktif, sekaligus melihat trend dan budaya yang sedang berkembang. Dalam kata lain flyer menjadi salah satu titik penentu perkembanan trend….hebat!!!

Apakah fenomena ini hanya terjadi di dunia club/rave saja? Tentu tidak. Kita lihat saja pada scene hardcore atau punk lokal kita, penggunaan media flyer menjadi pilihan yang sangat menyenangkan. Pergeseran fungsi flyer yang tadinya hanya populer di komunitas yang terbatas, diakui atau tidak kini telah mewarnai industri-indutri besar . Mulai dari promosi obral, launching produk baru, bazaar di tempat-tempat tertentu, dan masih banyak lainnya. Bahkan sekarang sudah tersebar satu rak khusus flyer. Siapa saja boleh mengambilnya dalam jumlah berapa pun!  Tentunya bagi si penyedia jasa flyer tersebut hal ini menjadi mesin uang produktif. Bagaimana tidak? Yang pasti mereka dibayar oleh perusahaan pemilik produk, namun di setiap flyer tersebt tercantum logo mereka. Secara otomomatis siklus promosi hand to hand akan terus berputar. WOW!!!! Bisnis yang menjanjikan, bukan?

Citra flyer menjadi sebuah komoditi? Tampaknya demikian. Dengan memanfaatkan citra visual progresif (yang biasa menjadi gaya desain flyer), konsumen diberi kemudahan untuk menyerap informasi produk ke dalan kehidupan mereka. Hal ini dapat diperhatikan dari flyer produk industri yang mulai ekspresif dan memanfaatkan gaya desain yang eksperimental, bukan lagi berisi informasi-informasi formal dalam bentuk teks saja, namun jauh lebih berkembang dan lebih bebas dalam berekspresi, baik secara estetika, maupun dasar fungsinya.

Pada akhirnya flyer sebagai media promosi, atau bahkan alat propaganda, memiliki kekuatan maha dasyat. Dengan lahan berekspresi dan berekspresimentasi secara visual, biaya produksi yang cenderung murah, dan tentunya efektif dan tepat dalam pendistribusian informasi, menjadikan flyer sebagai sebuah ‘alat’ yang sangat jitu! TWO TUMBS UP FOR FLYER!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Flyernya http://extraverage.net  ^_^

Jun
13

Pada awal gawe dulu, sering banget di tempat kerja mengalami kejadian diprotes bagian pengadaan logistic karena desain yang aku bikin gambarnya “pecah”. Gubrakkkk!!! Prangggg!!! Krrrrkkkkk!!! Lho? Eh, bukan gitu pecahnya. Gambar pecah karena aku mengubah ukurannya menjadi lebih besar. Memang pada gambar digital yang tipenya bitmap itu terdiri dari pixel. Kalau kita lihat dengan zoom maka akan terlihat kotak-kotak kecil warna. Itu namanya pixel. Trus gmn caranya biar gambar yang mo kita resize td tu nggak pecah? (Ya hindari saja pake barang pecah belah :D )

Pada artikel ini, kita akan mengenal metode resizing pada sebuah gambar yang dilakukan oleh software-software pengolah gambar yang sering kita gunakan.

Pixel berhubungan dengan resolusi. Bila kita memperkecil atau memperbesar suatu objek gambar pada software desain yang kita pakai, maka otomatis akan berpengaruh pada kualitas gambar tadi. Klo gambarnya diperkecil, berarti menambah jumlah ppi-nya (pixel per inch). Tapi inget, perubahan resolusi gambar tidak berpengaruh pada perubahan resolusi monitor. Memperkecil gambar nggak akan terlihat menurunkan kualitas gambar. Malah klo dicetak lebih bagus. Tapi kalau mau lebih jeli, sebenarnya objek tadi tu lebih kasar. Coba aja di zoom +. Yang sering jadi masalah tu adalah kalau mau memperbesar objek gambar.

Pada software aplikasi pengolah grafis seperti Photoshop, Fireworks, dll, hal tersebut dapat diperbaiki menggunakan metode resampling . Resampling adalah pembuatan pixel baru untuk memperbaiki gambar akibat resizing, hingga tampilan gambar menjadi lebih baik.

Menggunakan metode resampling, program aplikasi pengolah gambar akan menambahkan pixel-pixel baru diantara pixel yang diresize. Itung-itungan matematisnya program akan memperkirakan warna dan pixel baru untuk ditambahkan diantara warna pixel-pixel yang ada didekatnya. Prosesnya disebut interpolation. Pembesaran gambar dengan cara ini sebenarnya nggak mengubah resolusi dari gambar.

Metode dari resampling ini ada beberapa, tapi yang sering dikenal ada dua: Billinear dan Bicubic .

Billinear: Pada pembuatan pixel baru, metode ini mengacu pada 4 pixel yang berada di dekatnya, di bagian atas, bawah, kiri, dan kanan. Dari keempat warna pixel tersebut kemudian ditentukan pixel baru dengan warna yang merupakan warna campuran dari keempat pixel. Metode Billinear juga menggunakan antialias untuk menghindarkan penajaman pada sisi-sisi objek atau gambar. Hal ini akan mengakibatkan gambar akan bersifat soft atau sedikit blur.

Bicubic: Prinsip kerja dari bicubic pada dasarnya sama dengan Billinear tapi metode resampling yang digunakan mengacu pada 8 pixel yang terdapat disekitar pixel yang akan dibuat, pixel pixel tersebut adalah pixel yang digunakan pada billinear ditambah pixel-pixel diagonal pada pixel yang akan dibuat.

Nggak ada petunjuk baku soal penggunaan kedua metode ini, tapi menurut petunjuk dari sang maestro dan juga petunjuk di user manual software, pake aja Billinear untuk memperkecil gambar, dan Bicubic untuk memperbesar gambar. Of course kamu bisa bereksperimen dengan kedua metode ini, dan pilih aja metode yang menurutmu lebih baik.

Sebenarnya ada metode lain, tapi metode ini tidak termasuk menggunakan metode interportion, diantaranya adalah:

Nearest Neighbor : Sebenarnya resampling ini tidak menggunakan metode interpolation, tapi lebih pada penggunaan banyaknya warna tertentu pada suatu gambar.

Pixel Resize : Metode ini sama hasilnya seperti kamu memperbesar gambar dengan Zoom tool.

So… Semoga bikin dirimu dan diriku lebih paham lg tentang teknik interpolasi pada suatu gambar yang di-resize. Get try… ;)

Jun
12

Ecletic adalah sebuah gambar baru yang disusun dari berbagai macam sumber gambar lain. Berasal dari bahasa Yunani EKLETIKOS yang berarti memilih.

Hehe… Gambar diatas tuh latihan ekletik-ku. Ekletik beneran bukan ya??? :D

Ide gambar itu GILA. Aseli GILA!! Sampe ancur daku dikomentari tmn2 kantor. Biarin ah! Bodo bngt! Yang jelas bahwa ide itu unlimited. Konsep nya emng gila. Tapi… Easy going aja lah. Hehe…

Jun
11

Dah kenal dengan istilah Pop Art? Hehe… aku sih msh baru belajar. Istilah ini pertama kali muncul dari tulisan seorang kritikus Inggris, Lawrence Alloway pada akhir 1950an yang menggambarkan apa yang ia lihat sebagai perubahan atidunal kontemporer pada subjek dan teknik seni. Nggak berisi content-content langka seperti cerita mitos atau legenda yang secara tradisional sering menjadi subjek seni murni, dalam Pop art yang menjadi inspirasi adalah budaya barat buat iklan-iklan produk.

Populer di Inggris sekitar pertengahan 1950an dan di Amerika pada awal 1960an, Pop art fokus pada objek yang sering ditemukan sehari-hari dibuat dengan adopsi seni komersial. Sementara itu para seniman juga banyak mengadaptasi budaya populer seperti dari film layar lebar, komik, iklan, dll.

Poster karya Milton Glaser

Kultur yang populer pada tahun 1960an seperti musik, seni, disain dan literatur menjadi lebih mudah diakses dan merefleksikan kehidupan sehari-hari. Dengan sengaja dan jelas, Pop Art berkembang sebagai sebuah reaksi perlawanan terhadap seni abstrak. Gambar dibawah adalah sebuah poster karya Milton Glaser yang menonjolkan gaya siluet Marcel Duchamp dikombinasikan dengan kaligrafi melingkar. Di cetak lebih dari 6 juta eksemplar.

Andy Warhol bukanlah seniman pertama yang mengadaptasi iklan menjadi sebuah seni, sampai saat ini ia diakui sebagai praktisi pop art terbaik. Dengan karyanya, “200 Campbell’s Soup Cans” (1962) dan “Marylin Monroe Diptych” (1962), Warhol mencoba mengangkat reproduksi mekanis dari status seni murni.

Andy Warhol – “Marylin Monroe Diptych” (1962)

Pop art didesain berdasarkan masyarakat dan untuk masyarakat, walaupun hanya bisa dibuat oleh orang-orang tertentu. Popularitas pop art kemudian memudar di akhir era 60an setelah munculnya seni abstrak ekspresionis, namun kini pop art sudah mulai diminati lagi dan popularitas dua aliran seni itu kini sangat hebat.

Poster ini didesain untuk kampanye ATO São  Paulo’s U.S. Contemporary Food

Hehe…. Bikin seger mata. And I want to be…

Klo gambar yang ini cm sekedar iseng ku aja. Belum pop art. ^_^

Belajar yuuukkkk…. ;)

Apr
30

Lagi-lagi aku melewatkan MU. Menyebalkan!!! Padahal kemaren maennya keren, kata temen-temen. Dengan skor 1 – 0 bisa mengalahkan Barcelona dan maju ke final champion europe 2008.

Aku dah bela-belain melek. Tekun belajr buat persiapan ujian. Cieee… ;) ) Tapi pas sekitar jam 1 an tiba-tiba ngantuk bangeeeetttt…. Kantuk gak bisa ditahan. Hmm… Barang kali ada yang ngedoain aku biar gak bisa nonton bola. ;) ) Akhirnya tidurlah daku sampai pagi. Alarm yang aku setel jam 2 pun gak aku gubris. Gak dengeeerrr… Wuih. Padahal nyaris hampir kurang 45 menit lagi pertandingannya maen. Tragisss…!!!

Manchester United. Dari awal dah aku jagoin. Tumben tuh MU bisa masuk ke final champion setelah musim 1998/1999 kemaren. Musim2 terakhir selalu bermasalah di semi final. Apalagi 1st leg versus Barcelona seminggu lalu bikin aku ketar-ketir. Maennya jelek. Negative football. Lagi-lagi kata temen dan juga bbrp info dari media. Karena pas first leg kasusnya aku lg sakit-malem itu lg demam.

Wlo yang tadi malem nggak nonton… tetep brasa serunya dah. Karena lolos ke final sih… Sayang bngt gak bisa komentar bnyk deh soal permainannya. Karena gak nonton sihhh…

Dini hari nanti giliran Liverpool vs chelsea. Kita tunggu siapa lawan MU di final. Hmm… Jagoku sih Liverpool yang lolos. Dan ntar MU jadi juara championnya. Amiiiinnn…. ;)